23 Nov 2021, November 23, 2021 WIB
Last Updated 2021-11-24T07:05:07Z
Kebumen

Bermain Sekaligus Belajar di Sekolah Satwa di Sempor


RADARKEBUMEN.COM, KEBUMEN- Pilihan Wisata Edukasi di Kebumen kini bertambah. Ini dengan hadirnya Sekolah Satwa GEP.  Dimana tempat yang fungsi awalnya sebagai penangkaran satwa kini telah menyediakan program edukasi konservasi untuk umum. 


Di tempat tersebut pengunjung tidak hanya mengamati dan berinteraksi dengan satwa koleksi, melainkan juga juga diajak memahami prinsip-prinsip konservasi yang berlaku di Indonesia. Keberadaan destinasi baru yang beralamat di Jalan Yos Sudarso Barat, Selokerto Sempor tersebut diharapkan dapat menambah pilihan bagi wisatawan yang berkunjung di Kebumen.


Pimpinan Sekolah Satwa GEP, Kristian Ronald Ondy mengemukakan awalnya lembaga yang dibentuknya tersebebut merupakan wahana penangkaran satwa. Lembaga tersebut di bawah binaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kementerian Lingkungan Hidup. Dalam perkembangannya, seiring dengan bertambahnya koleksi, muncul gagasan untuk memanfaatkan penangkaran ini menjadi sarana belajar konservasi bagi masyarakat.

“Hingga kini di Jawa Tengah, khususnya di Kebumen, masih sulit ditemukan tempat untuk belajar konservasi alam khususnya satwa. Maraknya perburuan liar serta kegiatan perusakan lingkungan menunjukkan masih rendahnya kesadaran konservasi pada sebagian masyarakat. Sekolah Satwa GEP hadir dengan harapan ikut bersumbangsih membangun kesadaran konservasi di tengah masyarakat, khususnya generasi muda dan anak-anak,” jelas Kristian.


Ditambahkan kini Sekolah Satwa GEP memiliki 150 ekor satwa yang berasal dari 29 spesies. Mereka terbagi dalam kelompok mamalia, reptile da naves (unggas). Dalam waktu dekat juga akan dilakukan penambahan koleksi dengan tetap memperhatikan legalitas dan perijinan.


Dopan, salah satu fasilitator mengemukakan kegiatan kunjungan disusun dengan memadukan aspek rekreasi dan edukasi. Selain mengamati beragam satwa, pengunjung juga akan mendapatkan penjelasan rinci dari pemandu bahkan dapat pula berdiskusi terkait satwa dan isu konservasi.


“Materi pemanduan sengaja kita susun dengan memadukan pengetahuan satwa, peraturan konservasi dan isu-isu pelestarian. Kami juga menyiapkan bahan ajar bagi rombongan dari sekolah. Harapannya para siswa ke sini tidak hanya mendapatkan hiburan namun sungguh-sungguh mendapatkan tambahan ilmu dan wawasan,” jelas Dopan.


Untuk mengoptimalkan fungsi edukasi konservasi, Sekolah Satwa menyarankan para pengunjung untuk datang dalam rombongan dan melakukan pemesanan tempat terlebih dahulu. Jumlah pengunjung dalam satu rombongan pun dibatasi maksimal 25 orang. Ini tentuya agar proses edukasi dapat berjalan optimal.


“Khususnya untuk rombongan sekolah atau kelompok besar kami sarankan melakukan pemesanan terlebih dahulu. Ini untuk memudahkan kami melakukan penjadwalan tenaga pemandu mengingat semua proses kunjungan di Sekolah Satwa harus didampingi pemandu,” ungkapnya.


Sementara itu, salah satu pengunjung dari Kebumen Roy Sayoga mengungkapkan kepuasannya saat berkunjung ke destinasi wisata tersebut. Roy yang datang bersama keluarga besar dan putra-putrinya pun sangat menikmati kegiatan berinteraksi dengan satwa bahkan jenis satwa yang selama ini dianggap menakutkan. “Yang menarik adalah tempat ini bukan sekedar kebun binatang. Anak-anak bisa mendapat banyak pengetahuan bahkan juga bisa berinteraksi dengan hewan secara aman,” ucapnya. (mam)